Bagaimana seorang perintis menyiasati hidup? Karena dia juga manusia, maka seorang perintis tentu tidak bisa menghindari kebutuhan untuk hidup berkeluarga. Tetapi apakah sang suami atau istri bisa menerima atau bahkan mendukung sepenuh hati langkah-langkah aneh, nyeleneh dan gila yang diambil pasangan mereka? Apakah pernikahan menghambat kerja-kerja keperintisan? Ada banyak kisah tentang pengorbanan ikhlas dari keluarga para perintis.
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts
28 May 2015
27 May 2015
Cita-cita dan Kekeraskepalaan
Ketika manusia dilahirkan dia akan hidup bergantung pada semua parameter kehidupan yang melekat pada keluarganya, termasuk tata-nilai dan pandangan hidup, basis produksi dan tata-konsumsi. Namun begitu semua indera mulai berfungsi optimal, dimana data-data yang diperoleh kemudian diproses batang otak dengan ribuan girus abu-abunya, semua parameter kehidupan yang melekat pada keluarganya berperan sebagai bobot penimbang. Perlahan ketika dia tumbuh hingga dewasa, hanya sebagian saja dari parameter kehidupan yang melekat pada keluarganya menjadi bobot penimbang semua proses di batang otak dengan ribuan girus abu-abunya. Bobot penimbang lain dia peroleh dari pergaulan sehari-hari, serta, ini yang terpenting, pelajaran dan pengalamannya menangani semua masalah yang dihadapi. Sikap dan tindak keperintisan atau kepeloporan pun tumbuh melalui proses campuran yang rumit antara sosial, biologik, ekologik, ekonomik dan politik, yang menghasilkan bobot penimbang yang unik, nyeleneh dan bahkan dianggap gila oleh sebagian penganut kelaziman.
23 January 2015
Mengorganisir Diri, Berorganisasi dan Organisasi
Maksud hati melangkah cepat dalam hal mengorganisir diri prakarsa Para Perintis. Tetapi kenyataan berkata berbeda. Unggah-ungguh birokratik pengurusan pembentukan sebuah organisasi secara resmi, merujuk UU No 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, luarbiasa rumit, tak-efisien dan membingungkan. Semangat mengorganisir diri secara efektif agaknya tidak membutuhkan formalitas, apabila prakarsa ini memang sungguh-sungguh berdaulat dan mengandalkan tangan-tangan dan kaki-kaki para pemrakarsanya saja. Namun kebutuhan memperluas jangkauan pelayanan dan menggalang dukungan membutuhkan legitimasi, dan pada gilirannya, stempel legalitas.
18 January 2015
Jokowi dan Ancaman Keselamatan yang Masih Mengintai
Pesan kampanye Pilpres 2014 oleh Jokowi, "Revolusi Mental", saya anggap sebagai obat kejenuhan dari pesan-pesan bombastik yang sama dan selalu hadir di sirkuit-sirkuit kejuaraan politik sejak Reformasi (Setengah Hati) bergulir hingga kini. Tetapi begitu Sang Kangmas Solo ini menggulirkan Nawacita-nya, saya pun terjaga dari harapan-harapan melambung. Pertumbuhan ekonomi, mesin penggilas keselamatan warga, penghancur daya-pulih produksi-konsumsi warga, dan pelumat daya-pulih fungsi-fungsi alam, masih dijadikan tumpuan oleh Jokowi.
17 January 2015
Hegemoni Persepsi Kapital – Melulu Soal Uang? Melulu Soal Penyediaan Bahan Mentah dan Buruh?
Mengapa elit penguasa Indonesia (dan kemungkinan besar negara-negara bekas jajahan) senantiasa menggap diri mereka sebagai negara miskin, sehingga tanpa kenal lelah terus menerus mencari sumber-sumber keuangan lewat utang dengan beragam kemasan, baik dari sumber swasta maupun negara? Persepsi ini berangkat dari pemahaman bahwa kapital hanya melulu soal keuangan. Bagaimana dengan kapital sosial, budaya, dan alam?
13 January 2015
Keyakinan, Kepercayaan, Keimanan dan Keberanian Merintis
Bagi orang-orang seperti Dodi, Balian Supinah, Tari, Edi, Maga, Asun, Veronica, Pastor Kopong, dan Mashrani sikap dan usaha mereka menjadi orang terdepan merintis perubahan butuh keyakinan luar biasa besar. Keyakinan yang mendorong keberanian untuk menghadapi dan menerima risiko kegagalan dan kehilangan kepercayaan warga masyarakat. Masing-masing punya garis sejarah yang khas. Masing-masing mendapatkan titik pencerahan yang membuat mereka menemukan elannya dan maju merintis perubahan. Bisajadi tidak hanya satu elan yang mereka dapatkan, mungkin beberapa, hanya mereka yang tahu.
12 January 2015
Mengapa Perintis?
Perintis adalah para pembuka jalan. Mereka pasang badan menerabas segala rintangan agar siapa pun di belakang mereka bisa melewati jalan yang baru dibuka itu. Siapa pun di belakang mereka patut dimaknai sebagai orang-orang yang percaya kepada sang perintis, bukan sekedar pengikut. Di balik makna gagah dan heroik, kenyataannya sosok para perintis justru jauh dari tampilan macho dan serba maskulin. Mereka adalah sosok welas asih tetapi kritis.
Subscribe to:
Posts (Atom)



