13 January 2015

Keyakinan, Kepercayaan, Keimanan dan Keberanian Merintis

Bagi orang-orang seperti Dodi, Balian Supinah, Tari, Edi, Maga, Asun, Veronica, Pastor Kopong, dan Mashrani sikap dan usaha mereka menjadi orang terdepan merintis perubahan butuh keyakinan luar biasa besar. Keyakinan yang mendorong keberanian untuk menghadapi dan menerima risiko kegagalan dan kehilangan kepercayaan warga masyarakat. Masing-masing punya garis sejarah yang khas. Masing-masing mendapatkan titik pencerahan yang membuat mereka menemukan elannya dan maju merintis perubahan. Bisajadi tidak hanya satu elan yang mereka dapatkan, mungkin beberapa, hanya mereka yang tahu.




Sebuah kisah serius tentang keyakinan dan keimanan ketika kami mendengarkan tutur Balian Supinah tentang ketidakpeduliannya pada agama-agama resmi karena baginya hidup adalah untuk memberi kebaikan bagi sesama. Ketika ia menolak melakukan ritual untuk sebuah perusahaan tambang batu bara ketika perusahaan itu akan memulai operasi, Balian Supinah, yang belum pernah melangkah keluar dari kampungnya, yakin bahwa kegiatan menambang batu bara akan menyengsarakan warga. Ketika perusahaan tetap berkeras beroperasi tanpa diberkati ritual dan satu per satu pekerjanya jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal, Balian Supinah tidak mengklaim bahwa itu akibat penolakannya. Ia berkeyakinan, orang jahat akan menerima ganjaran, dan kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. Sebuah keyakinan yang terasa arkhaik dan langka ditemukan di peradaban digital yang segalanya serba cepat, praktis serta tidak merasa perlu membedakan mana yang jahat dan mana yang baik.

Begitu pun kisah dan hikmah yang dituturkan Aleta Baun. Sepenggal kisah tentang perdebatannya dengan Torry Kuswardono mengenai sosok yang diyakini Aleta bahwa orang yang berhak memimpin adalah ia yang berkaki bengkok dan bertubuh bau karena tidak pernah mandi, menunjukkan sebuah keyakinan yang ikhlas. Tak kenal lelah Aleta menelusuri kampung-kampung untuk mencari sosok sang pemimpin. Sosok yang ia yakini berpengetahuan tentang sejarah penguasaan tanah di wilayah dimana Aleta menggerakan warga setempat melawan perusahaan tambang marmer yang merusak hutan dan sumber air. Sosok yang diyakini Aleta memiliki kekuatan untuk menggerakkan warga melakukan perlawanan.

Keyakinan yang dimiliki kedua sosok tersebut bukan sekedar intuisi atau sikap dan ungkapan optimistik yang berangkat dari hitung-hitungan yang masuk akal. Mungkin saya tidak terlatih memiliki keyakinan seperti itu. Intuisi yang terbangun pada diri saya bolehjadi hanya serangkaian rujukan dari pelajaran dan hikmah dari garis sejarah hidup saya. Bahkan ada kecenderungan rujukan-rujukan tersebut saya kerangkakan sedemikian rupa menjadi terlalu sistematik karena saya terlatih berpikir dan bertindak sistematik. Memang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi keyakinan, kepercayaan, keimanan dan keberanian merintis memang tidak tumbuh di bangku sekolah. Ia tumbuh secara alamiah pada pribadi-pribadi ikhlas yang dengan tekun dan sabar menyerap rasa sakit dan ketidaknyamanan saat melangkah merintis perubahan di jalan sepi.

No comments:

Post a Comment